Semua orang mengakui bahwa guru memegang kunci utama sukses tidaknya pembelajaran di sekolah. Dulu, perilaku guru bagaikan mega bintang yang akan menjadi idola siswanya dan masyarakat di sekitarnya dalam berbagai hal. Guru bagaikan manusia yang berjiwa agung. Banyak pandangan masyarakat terhadap guru adalah manusia yang serba tahu, serba bisa dan memiliki wibawa yang tinggi.
Profesi guru di masa lalu dinilai memiliki kualitas, berkarakter, mempunyai semangat berkorban untuk masyarakat dan umumnya dikenal mampu membimbing masyarakat. Bagaimana dengan guru saat ini ?
Diakui atau tidak, saat ini citra guru perlahan-lahan mulai terkikis. Memang banyak fakta dilapangan yang telah membuktikan bahwa guru semakin hari semakin materialistis dan tidak sedikit perilaku guru yang kini mulai salah kaprah dalam aspek kejujurannya. Terlepas dari benar atau tidaknya isu tersebut, sebenarnya citra buruk dari guru itu sendiri juga tak lepas dari faktor keseharian yang sudah umum terjadi.
Faktor apa saja itu, cek di bawah ini.
1. Politik
Saya rasa rusaknya nama guru di indonesia disebabkan oleh politik negeri ini. Liat saja hampir setiap kampanye, semua bakal calon selalu menyatakan bahwa pendidikan sebelumnya kurang bagus. Kurang ini dan kurang itu. “Pendidikan mesti berpihak pada rakyat". Pendidikan dewasa kini sudah menjadi ladang bisnis. Tanpa sadar hal tersebut menciptakan paradigma negatif dari publik.
Bahwa pendidikan kita mulai perlahan mejadi sangat jelek, tidak relevan dan terkesan buruk dimata masyarakat. tentu secara otomatis membuat seluruh elemen yang ada didalamnya kecipratan citra buruk tersebut.
2. Pemerintah
Pemerintah juga punya memiliki kontribusi besar dalam menyumbang nama buruk bagi “guru”. Berbagai kebijakan terhadap dunia pendidikan seolah berpihak pada guru tetapi ujung-ujungnya malah menjebak dan mengikat profesi guru itu sendiri. Saat guru sedang disudutkan rasanya pemerintah seperti menghilang begitu saja.
Seperti yang kita ketahui bahwa guru adalah bagian paling fundamental dari satu sistem pendidikan yang begitu besar pada bangsa ini. Guru hanya menjalankan suatu sistem, tetapi anehnya jika ada kesalahan semuanya langsung tertuju pada nama ”guru”. Buktinya tak pernah ada pemberitaan salah tentang pengawas sekolah. Padahal semua penyimpangan di sekolah tentu pengawas sekolah tahu.
Tak ada pemberitaan salah tentang dinas pendidikan. Apalagi badan pemeriksa keuangan sekolah yang tak pernah kecipratan citra buruk. Padahal dari sekian banyak kasus penyimpangan dana bos, mereka juga turut serta tutup mata dan tutup kuping. Pemerintah kita juga begitu permisif dengan berbagai media yang merusak generasi muda, sehingga hal tersebut menyulitkan pengoptimalan sistem pendidikan bangsa ini.
3. Aktivis-aktivis Pendidikan
Berbagai seminar, event atau workshop kecil sekalipun. Nama guru selalu disandingkan dengan sesuatu yang seolah harus diperbaiki dan harus dibenahi. Terlebih untuk para guru senior dan sudah lanjut. Hal tersebut sangatlah terlihat tidak bijaksana. kita tahu internet itu baru tenar, kita tahu bahwa berbagai metode pembelajaran baru saja diadopsi dan kita juga tahu bahwa saat mereka pendidikan dulu berbagai media tak secanggih sekarang.
Kita terus saja menyalahkan mereka tanpa pernah berpikir bahwa merekalah yang membuat kita, bisa seperti sekarang ini. Mereka terus saja dipaksa untuk menguasai teknologi yang mata mereka pun tak lagi mampu untuk melihat layar komputer. Mereka di jejali oleh berbagai istilah baru yang sengaja diubah-ubah. Yang pada akhirnya melahirkan murid yang mengkritisi pedas pengajarnya tanpa sadar jasa budinya.
4. Oknum
Oknum tertentu dalam dunia pendidikan secara mudah dapat meraup keuntungan lewat korupsi. Tapi lagi-lagi yang kena getah nya adalah nama “guru” seperti permainan yang tiada ujung. Media pun tak pernah luput untuk memperbesar kesalahan satu orang dibanding jasa jutaan guru di seluruh indonesia hanya untuk masalah-masalah kecil seperti LKS dan buku cetak.
Dan tiba-tiba citra para guru seolah begitu rakus oleh uang LKS, padahal itu semuanya hanya di lakukan oknum yang sangat tidak bertanggung jawab. Padahal kenyataan dilapangan tidaklah demikian. Para siswa menyatakan bahwa penggunaan lks lebih membantu dan lebih praktis. Tak perlu ribet dengan mencatat dan mendikte.
5. Istilah Sekolah Gratis
Istilah ini benar-benar memberikan konotasi negatif bagi seorang guru. Para orang tua wali murid langsung bersuara kritis jika ada kata “uang” atau kata “sumbangan” dari anaknya. Yang lebih memprihatinkan adalah ketika misal, seorang guru menugaskan siswanya untuk membuat laporan tertulis tentang lingkungan sekitar nya. Dan siswa tersebut meminta uang pada orang tua nya untuk membeli pensil misalnya.
Tiba-tiba si orang tua marah-marah dan berkata "Sekarang kan sekolah gratis, kok masih minta uang terus sih. Lucu memang. Tetapi itulah fakta. Masyarakat kita tidak benar-benar tahu apa itu makna "sekolah gratis". Mereka berpikir bahwa gratis yang dimaksud adalah gratis atas segala nya. Nah Anehnya lagi, sampai saat ini nggak ada tuh sosialisasi yang lebih konkret untuk istilah "sekolah gratis" dari pemerintah.
Faktor di atas, hanyalah sebagai gambaran kecil saja, telah mengikisnya citra guru masa kini yang tanpa disadari berhubungan dengan kita. Semua pihak harus bersatu membangun kembali citra guru bisa dapat kembali sesuai dengan fitrahnya yaitu digugu dan ditiru. Profesi guru, bisa kembali dihormati dan dihargai oleh masyarakat.
Penting bagi suatu negara untuk dapat mengistimewakan profesi ini. Karena berkat adanya guru, generasi penerus bangsa ini akan lahir.